TARIANKU

semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya, penari, pecinta tari, pengamat tari dan juga guru-guru tari. Serta seniman-seniman baik tari, musik maupun teater. salam budaya.

Monday, July 16, 2012

press release Kusuma Budaya Dance di SIDF 2012
22-24Agustus 2012
Koreografer : Tien Kusumawati, S. Pd








Monday, July 9, 2012


MENGENALKAN TARIAN SEJAK DINI
Mengajarkan anak-anak menari bukan suatu hal yang sulit. Mencintai dan menyenangi tari, itu yang perlu kita tanamkan terlebih dahulu pada mereka. Sejak dini, anak-anak mulai dikenalkan pada tari. Peran sekolah sangat mendukung dalam pengenalan tari kepada anak-anak. Adanya kegiatan ekstra kurikuler seni tari di sekolah membuat anak-anak bisa mengenal tari. Melalui kegiatan ini kita dapat melihat bakat-bakat yang dimiliki anak. Bagi anak-anak yang memiliki bakat menari akan lebih cepat menguasai tarian yang dipelajari daripada anak-anak yang hanya ikut-ikutan saja.
Mengenalkan tarian kepada anak sejak dini memang perlu dilakukan, agar mereka lebih mencintai kebudayaan sendiri dibanding kebudayaan asing yang belakangan ini makin popular dan lebih diminati anak-anak kita. Menari (tradisional) bagi anak-anak adalah sesuatu yang kurang diminati, nampak pada kehadiran mereka saat kegiatan ekstra kurikuler. Perbandingan yang sangat menyolok, dari jumlah 200 siswa, yang hadir mengikuti ekstra kurikuler tari hanya 20 siswa. Di sekolah lain, dari jumlah siswa sebanyak 1000 siswa yang mengikuti ekstra seni tari hanya 18 siswa. Namun demikian, salut bagi sekolah-sekolah yang tetap mengadakan kegiatan menari.
Kurangnya kecintaan anak-anak terhadap seni tari (tradisional) membuat proses belajar menari kurang efektif, karena mereka datang hanya untuk memenuhi kewajiban saja, bukan karena kesadaran mereka untuk belajar menari, sehingga bisa mempengaruhi anak-anak yang memang benar-benar akan belajar menari. Ini PR bagi para guru tari. Bagaimana membuat anak-anak mencintai tari dan menyenangi tari? Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecintaan anak-anak pada seni tari antara lain : sikap guru tari, faktor lingkungan/rumah dan sekolah.
Sikap guru tari/ pelatih tari juga mempengaruhi kecintaan anak-anak pada tari. Masing-masing guru tari/pelatih tari memiliki cara tersendiri, yang berbeda satu sama lain dalam mengajarkan tari pada anak didiknya. Satu hal yang sangat penting adalah berhentilah mengajar saat kemarahan/emosi dalam diri kita mulai muncul, yang disebabkan karena anak-anak tidak segera hafalgerakan yang diberikan, demikian pesan dari teman guru tari yang sangat professional. Seorang guru tari harus dapat melakukan pendekatan-pendekatan terhadap anak didiknya agar mereka mengikuti pembelajaran menari dengan senang hati. Hendaklah seorang guru tari harus mengenal karakter anak-anak. Guru tari juga harus professional dibidangnya.
Selain sikap guru tari, faktor lingkungan juga mempengaruhi kecintaan anak-anak terhadap seni tari. Jika sejak TK anak-anak sudah mengenal tari, niscaya ketika anak tersebut duduk di bangku SD sudah terbiasa dengan menari, bahkan ketika masuk duduk di bangku SMP anak tersebut pasti akan mengikuti kegiatan menari. Keberadaan sanggar-sanggar tari juga berpengaruh besar terhadap pembentukan rasa cinta  anak-anak terhadap seni tari. Rasa cinta dan sengan terhadap seni tari ini dapat terwujud apabila ada kerja sama yang baik dari beberapa pihak. Antara lain : sekolah, lingkungan/keluarga dan guru tari. Sekolah, dalam hal ini sebagai penyelenggara kegiatan, menyediakan wadah untuk proses pembelajaran menari. Program ini akan berjalan apabila didukung oleh lingkungan/ keluarga sebagai penggerak untuk mendorong anak-anak mengikuti kegiatan menari. Sedang guru tari sebagai central dari kegiatan ini. Harus menjadi motivator bagi anak-anak. Harus menjadi contoh bagi anak-anak dan harus menjadi cermin bagi anak-anak. Dengan demikian diharapkan melalui pengenalan tari (tradisional) sejak dini dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri, khususnya seni tari tradisional. 

Program pemerintah melalui kegiatan lomba pekan seni pelajar sangat mempengaruhi anak-anak dalam berlatih menari, karena agar menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut harus menari dengan baik, dan untuk dapat menari dengan baik maka harus berlatih dengan serius, sehingga secara tidak langsung telah tumbuh dihati mereka rasa cinta dan senang terhadap seni tari. 
(seleksi lomba tari)



Semoga bermanfaat. Selamat berkarya. Salam Budaya.

Sunday, July 8, 2012


TIDAK BISA DENGAN INSTAN

“Gerakannya koq cuma seperti itu!”
“Wahhh…kalau begitu saja sih anak kecil juga bisa”
“Emang gak ada gerakan lain yaaaa….”

Seperti itulah kalimat yang sering kita dengar saat usai menyaksikan latihan tari untuk anak-anak. Bagi mereka yang tidak pernah mengajar, apalagi mengajar anak-anak sering menganggap gerakan yang kita ajarkan sangatlah mudah. Sementara bagi pengajar…sesederhana apapun gerakan, apabila diajarkan pada anak-anak itu sangatlah menguras tenaga dan pikiran. Bagaimana tidak…anak-anak, cenderung belum bisa berkonsentrasi dengan baik. Apa yang kita ajarkan belum tentu bisa diterima anak-anak. Apalagi yang berhubungan dengan bentuk gerak tubuh, antara orang dewasa (pengajar) dan anak-anak sangatlah berbeda.
            Bagi orang dewasa, gerakan berjinjit-jinjit saja sangatlah mudah. Tetapi bagi anak-anak untuk melakukan jinjit, banyak anak yang mengalami kesulitan/belum bisa berjinjit. Mungkin karena fisik anak-anak masih dalam tahap perkembangan. Butuh waktu untuk mengajarkannya. Di samping itu ada trik-trik tersendiri buat mengajarkan gerakan badan pada anak-anak. Karena sifatnyalah, kita harus hati-hati dalam mengajarkan gerakan/ tarian. Salah-salah, malah membuat anak tidak suka dengan menari. Apabila sudah tertanam benci, maka sampai kapanpun si anak tidak akan pernah mau belajar menari.
            Belajar menari…apapun tariannya, tidak bisa dilakukan dengan instan. Seperti pada Ballet dan tari tradisional khususnya tari dari Jawa Tengah. Butuh waktu, proses dan kesabaran dalam mempelajarinya. Sebaiknya belajar menari dilakukan sejak dini. Sejak anak masih kecil. Ketika kita sudah melihat adanya bakat anak pada tarian, segera kita arahkan anak-anak kita dibidang tersebut. Melalui les privat  maupun sanggar-sanggar. Belajar menari sejak dini bukan berarti menciptakan anak-anak kita menjadi penari. Kalau memang nantinya anak kita benar-benar menjadi seorang penari, juga tidak ada jelaknya kan? Belajar menari pada anak-anak tidak hanya menciptakan anak-anak menjadi penari, atau anak-anak mengenal tari, atau bisa menari. Tidak. Lebih dari itu. Belajar menari, tujuan lain yang kita harapkan adalah adanya kepekaan anak-anak kita terhadap lingkungan, memiliki keberanian, rasa percaya diri, dan memiliki keseimbangan kerja otak, baik otak kanan maupun otak kiri. Mengajarkan gerakan badan yang dipadukan dengan music tidaklah mudah. Butuh waktu untuk melakukan itu semua. Apalagi terhadap anak-anak. Jadi…belajar menari,..… ingin menjadi penari,..… tidak bisa dilakukan dengan instan.
           

Thursday, July 5, 2012


PROSES PENCIPTAAN SEBUAH KARYA TARI
Tien Kusumawati, S.Pd

Mencipta sebuah tari? Apa bisa? Bagi seniman tari, mahasiswa seni tari, guru tari, hal ini sangatlah mudah, tapi bagi orang awam atau siswa mungkin ini sangat sulit. Tulisan ini mungkin bisa membantu teman-teman kita calon guru SD yang masih berstatus mahasiswa yang mendapat tugas mencipta tari dari mata kuliah seni tari dan drama. Tulisan ini terinspirasi dari keluhan seorang mahasiswa PGSD kepada saya tentang tugas penciptaan sebuah karya tari. Dia mengeluhkan tentang tugas menciptakan tari. Untuk mahasiswa jurusan seni tari mungkin ini menjadi sarapan sehari-hari. Tetapi bagi mereka mahasiswa dari PGSD, mungkin ini menjadi tugas yang tidak gampang.
Tari adalah gerakan-gerakan yang diberi bentuk dan ritme dari badan di dalam ruang. Demikian pengertian tari yang dikemukakan oleh Hartong dari Belanda dalam bukunya Dunskunst (Sudarsono, tanpa tahun) dalam buku Pendidikan seni tari drama oleh Hj. Purwatiningsih, M. Pd dan Dra. Ninik Harini. Jika kita cermati, pengertian tersebut menjelaskan bahwa tari selalu menggunakan gerak badan sebagai unsur utamanya. Ruang gerak yang dimaksud adalah arah kemana anggota badan kita bergerak.
Proses penciptaan bermula dari munculnya sebuah ide. Untuk kemudian dilanjutkan dengan bereksplorasi gerak sesuai dengan ide garapan. Selanjutnya proses penciptaan tari berlanjut pada penambahan musik pengiring. Bagi pemula, proses penciptaan tari dapat dimulai dari mencari musik pengiringnya terlebih dahulu.
Eksplorasi merupakan proses berfikir, berimajinasi, merasakan, dan merespon suatu obyek untuk dijadikan bahan dalam karya tari. Wujudnya bisa berupa benda, irama, cerita, dan sebagainya. Eksplorasi dilakukan melalui rangsangan. Beberapa rangsangan yang dapat dilakukan untuk bereksplorasi antara lain :
Rangsang Visual
Mengamati suatu benda hidup maupun mati untuk dijadikan obyek pengamatan. Rangsang ini bisa muncul dari pengamatan terhadap patung, gambar, dan lain-lain. Dari benda-benda ini dapat kita amati dari segi bentuk, tekstur, fungsi, wujud dan lain-lain. Hasil dari pengamatan dengan rangsang visual kita dapat menemukan gerak yang keras, patah-patah, dan berirama.
Rangsang Audio/Dengar
Berbagai macam bunyi-bunyian dapat dijadikan rangsangan dalam menemukan gerak. Yang termasuk rangsang audio antara lain untuk iringan tari, musik-musik daerah, semua kentongan, lonceng gereja, suara yang ditimbulkan oleh angin, dan suara manusia. Gerak-gerak yang dapat diperoleh dari pengamatan ini antara lain gerak mengalun seperti angin, gerak yang lembut dan lemah gemulai.
Rangsang gagasan/ide
Gagasan atau ide sangat membantu dalam berkarya tari. Ide apapun itu dapat dijadikan rangsang untuk menciptakan gerak.
Rangsang kinestetik
Dalam menciptakan sebuah  karya tari, kita dapat menggunakan gerak tertentu sebagai rangsang kinestiknya. Gerak dapat diperoleh dari gerakan-gerakan dalam tari tradisional maupun kreasi baru/modern. Gerak dalam tari tradisional misalnya : ukel, sabetan, langkah step, srigig(lari kecil-kecil) dan lain-lain. Kita dapat menggabungkan gerakan-gerakan dasar tersebut untuk dirangkai menjadi sebuah tarian.
Rangsang Peraba
Sentuhan lembut, sentuhan kasar, emosi kemarahan, sedih yang kita rasakan juga dapat dijadikan rangsangan dalam penciptaan sebuah karya tari. Gerak yang dapat kita temukan dari hasil pengamatan ini antara lain gerak dengan tempo cepat, gerakan berlawanan, dan gerak yang patah-patah.

Dari rangsangan-rangsanagn tersebut kita dapat memulai bereksplorasi. Eksplorasi dapat dilakukan melalui alam, binatang, buku cerita, dan lingkungan sekitar.

Eksplorasi Melalui Alam
Alam memiliki banyak ragam yang dapat kita amati untuk kita jadikan gerakan-gerakan dalam penciptaan karya tari. Cobalah kita keluar rumah…lihatlah sekitar kita. Amati sebuah pohon. Ada gerakan berayun, bersentuhan, melayang, bergandengan. Dari sini kita bisa menemukan gerakan seperti menggerakkan kedua tangan kita berayun, bergantian tangan kanan dan kiri. Atau kedua tangan lurus keatas berayun kekanan dan kekiri. Bisa jadi gerak tangan ukel sambil berputar ditempat bergantian tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah serta sebaliknya. Tetapi jangan lupa bahwa gerakan yang kita ciptakan harus sesuai dengan tema yang sudah dulu kita tentukan.

Eksplorasi melalui binatang
Binatang dapat kita amati dari wujud, jenis, suara, dan tingkah laku. Cobalah amati, peragai binatang tersebut. Satu contoh….kita mau menciptakan tari kupu-kupu. Perhatikan kupu-kupu, dari wujud, jenis serta tingkah lakuknya. Kemudian kita terapkan pada diri kita untuk dijadikan sebuah gerakan seperti, kupu-kupu terbang, diam dengan hanya mengepakkan sayap, mengisap madu, makan, menggerakkan sungut dan lain-lain. Nah dari sinilah kita sudah menemukan gerakan untuk kemudian disesuaikan musik pengiringnya.
Eksplorasi melalui buku cerita anak
Beragam buku cerita anak-anak dapat kita amati untuk kita jadikan gerakan tari. Jika kita mengeksplorasi buku cerita anak, mulailah dengan mencari tahu bagaimana karakter tokoh dalam cerita tersebut. Hal ini akan memudahkan kita dalam melakukan pengamatan.

Eksplorasi melalui lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar kita banyak ragamnya yang dapat kita jadikan sebuah karya tari. Dari bentuk, warna, serta fungsinya. Contoh gitar. Beragam pandangan orang akan gitar. Ada yang melihatnya sebagai alat musik, ada yang melihat sebagai bentuk tubuh ideal seorang wanita, ada pula yang memandangnya sebagai hiasan saja. Nah dari gitar inilah kita dapat menciptakan gerakan dengan mengambil aura gitar untuk dijadikan gerakan-gerakan agar dapat tercipta tarian yang kita inginkan. Pastinya sesuai tema yang terlebih dahulu kita pilih.
Jangan lupa…gunakanlah rangsangan-rangsangan tadi untuk dapat menciptakan gerakan. Sehingga jadilah sebuah karya tari. Mudah kan????
BELAJAR SABAR DARI TARI JAWA
Tien Kusumawati, S.Pd

“Senang rasanya melihat anak-anak kecil belajar menari. Ingatan langsung melayang, pada masa kecil, saat dulu belajar menari.  Masih teringat jelas nama-nama mereka, guru tari. Saat duduk di bangku SD  ada Bu Budi, ketika SMP dan SMA ada Pak Bambang. Mereka dengan sabar, bahkan amat sabar saat melatih tari di sekolah”.

Memang benar belajar menari dan melatih tari dibutuhkan kesabaran. Apalagi dalam belajar tari tradisional, Jawa khususnya. (Jawa Tengah). Tari Jawa merupakan tarian yang lembut, gerakannya mengalir, dan amat pelan. Gerakan dilakukan sesuai irama, dimana tempo iramanya begitu lembut/pelan.

Beberapa nilai yang dapat kita ambil dari tari Jawa, (demikian banyak orang menyebut tarian ini) yang dapat kiat terapkan dalam kehidupan kita, antara lain kita harus senantiasa sabar, kita harus senantiasa tepat waktu, dan segala sesuatu dilakukan sesuai aturan. Mungkin masih ada yang dapat kita temukan apabila kita mengkaji lebih dalam tentang Tari Jawa ini. Namun demikian 3 hal yang dapat saya uraikan, bagi saya ini sudah cukup mewakili untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. 3 hal tersebut adalah : kesabaran, tepat waktu, dan kelembutan.

Kesabaran
Untuk menjadi penari yang baik, kita wajib berlatih secara terus menerus dengan penuh kesabaran, tidak mudah putus asa atau cepat bosan. Sabar apabila kita kesulitan melakukan gerakan yang amat njlimet / rumit. Dalam belajar menari dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat menyelesaikan 1 tarian. Harus sabar dalam mempelajari tarian tersebut. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, hendaklah kita sabar dalam menghadapi kehidupan ini, apapun sulitnya, senantiasa ada jalan untuk meraihnya asalkan kita lakukan dengan penuh kesabaran dan tidak putus asa.

Tepat waktu
Untuk memudahkan mengingat-ingat gerakan, biasanya kita gunakan hitungan, dimana jarak hitungan 1 ke hitungan dua sangat pelan dan tempo yang agak lama, dan harus dilakukan sesuai irama. Contoh, pada saat gerak seblak sampur (mengibaskan salendang kearah samping kanan atau kiri), gerak seblak sampur pada salah satu tarian harus dilakukan pada hitungan 8 (bertepatan dengan bunyi gong), jadi sebelum hitungan 8, gerak seblak tersebut belum boleh dilakukan atau jangan sampai melebihi hitungan 8. Jika tidak, wirasa/ dalam tarian tersebut akan kurang enak dinikmati karena gerakan dilakukan tidak tepat waktu/tidak pas musiknya, karena bisa saja terjadi antara musik dan gerakan akan saling kejar-kejaran sehingga tarian tersebut kurang enak untuk dinikmati. Dalam dunia kerja, kita senantiasa dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal/tepat waktu. Bagaimana jadinya apabila kita tidak tepat waktu, pasti akan menumpuk pekerjaan-pekerjaan lainnya. Semakin kita tunda, semakin tinggi tumpukan pekerjaan kita.

Kelembutan
Tari Jawa yang identik dengan kelembutan, gerakannya mengalir, alus (lembut), sehingga terkesan sangat anggun. Kelembutan juga kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari…terhadap keluarga…terhadap kerabat… terhadap rekan kerja, kita butuh itu. Sehingga dalam pergaulan tidak saling bersitegang satu sama lain… Kalaupun ada konflik dapat diselesaikan dengan keramahan,  kekeluargaan…so…dengan penuh kelembutan….




Tegal, 16 Oktober 2010

Sunday, July 1, 2012


BELAJAR MENCIPTAKAN SEBUAH KARYA TARI PADA PELAJARAN SENI BUDAYA DI SMP
(bagian 3)
 (Tien Kusumawati, S.Pd)

Setelah mengenal gerak-gerak dasar pada tari putri, selanjutnya kita mengenal bentuk dasar gerak pada tari putra alus dan putra gagah.

1.      Tari Putra Alus
a.       Gerakan Tangan
1.      Ukel
2.      Ngrayung
3.      Nyekithing
4.      Nyempurit
5.      Ulap-ulap
6.      Tawing
7.      Seblak
8.      Ngrekotho
9.      Nayung
10.  Mingkis

b.      Gerakan Kaki
1.      Tanjak kanan
2.      Tanjak kiri
3.      Silo
4.      Jengkeng
5.      Srisig
6.      Kenser
7.      Trecet
8.      Onclangan
9.      Kicat
10.  Gejug

c.       Gerakan Kepala
1.      Gedheg
2.      Mbanyak slulup
3.      Lenggut

Berikut ini adalah istilah-istilah dalam gerak dasar tari putra gagah:

2.      Tari Putra Gagah
  1. Gerakan Tangan
1.      Ukel
2.      Mbaya mangap
3.      Nggegem
4.      Ulap-ulap
5.      Tawing
6.      Bapang
7.      Kambeng

  1. Gerakan Kaki
1.      Silo
2.      Jengkeng
3.      Tanjak kanan
4.      Tanjak kiri
5.      Srisig
6.      Junjungan
7.      Tranjalan
8.      Trecet
9.      Jomplangan

  1. Gerakan Kepala
1.      Gedheg
2.      Pacak gulu
3.      Gebes

            Ada beberapa istilah yang sama pada tari putri dan putra alus. Hanya saja yang membedakan adalah ruang geraknya atau disebut dengan lebar penthangan. Misal pada gerak tanjak kanan. Gerak dasar tanjak kanan pada tari putri dan tari putra alus serta tari putra gagah yang membedakan adalah lebar  membukanya kaki. Pada tari putri antara kaki kanan dan kaki kiri tidak ada jaraknya, tetapi pada tari putra alus antara kaki kanan dan kaki kiri ada jarak 1 telapak kaki. Sedang pada tari putra gagah lebar jarak kaki sampai 2 atau 3 telapak kaki. Demikian juga dengan beberapa istilah gerakan-gerakan yang sama namanya tetapi lebarnya berbeda.
            Nah…setelah kita mengenal gerakan dasar dari sebuah tarian, maka kita dengan mudah menciptakan gerakan tarian. Langkah selanjutnya adalah dengan menggabungkan antara gerak tangan, gerak kaki dan gerak kepala, maka terbentuklah satu gerakan. Untuk mengingat-ingat gerakan yang sudah kita ciptakan sebaiknya kita mencatatnya kedalam sebuah diskripsi tarian. Baru, setelah terkumpul beberapa gerakan, maka langkah selanjutnya adalah menggabungkan gerakan yang satu dengan yang lain. Tentu saja gerakan yang kita ciptakan harus sesuai tema. Kemudian gerakan-gerakan tersebut di sesuaikan dengan judul tarian. Dan dipadukan dengan amat sangat hati-hati. Sehingga tercipta sebuah tarian sederhana. (seperti yang diuraikan pada postingan yang lalu).
Selamat berlatih yaaaaa………..